SERPIHAN KALBU

Serupa kabut di awan putih
Hatiku mendung tak bertepi
Meratap nuansa bekap nestapa
Di gurun sendu kehempasan khianatmu

Perlahan segenap asaku terkoyak
Hambar terguris kelam dustamu
Memintal cinta di kepalsuan sutera
Mengucap setia mengelabuhi sukma

Hatiku luluh berpuing gundah
Kau campakan lewat muslihatmu
Buatku berkucuran airmata
Seraya terkapar meringis pilu
Di ruang terpa kelantingan hitam mu

Enyah sudah asa indah
Tenggelam dalam kabut kehampaan
Kini bergelut rasa nan cua
Karena kehancuran sikapmu melantarkan ku

Serasa hidup tiada arti
Setelah kau pergi menjauh
Namun apalah guna kusesalkan
Kala keberadaamu hanya bisa menyakiti hati

Tuhan
Tegarkanlah hamba
Tuk meratapi serpihan kalbu ini
Bertahan sampai tiba masanya
Ku temui indahnya cinta
Di lukisan takdir hidupku.

Kangen

Andai jarak antara kita dapat kulipat
Mungkin tiada kurasa serindu ini

Dan andai waktu dapat kuputar
Mungkin daku tak secemas ini

Disini daku selalu menantimu
Dan terus menunggumu

Oh...
Kasih..
Tahukah dirimu?

Amatlah penat kurasa
Kala hari demi hari
Terus berlalu disini tanpamu

Sungguh sulit bagiku
Jika sosok hadirmu
Tiada disini menemani.

CENNING WAE ELOKO

Pappadai wae uttang massolo tammetti
Bateku makkuraga ripappojinna atimmu
Namungi ritokko pettang kape
Teppedde toni sulo minnasakku
Simata tuo mannennungeng lao rialemu

Namungi bulu sianre tette
Mappita cora bara api
Ulaberitoi takku jampangi
Assala uletturang mui pappojikku rialemu

Nasaba idi mememmi tau
Turu ampena atikku
Sibawa cenning wae eloku
Melo siseo masse tammalikapessang
Lao ricinnongna decengnge

Esso na wenni
Tulika massuajang rennu teppagangka
Mattiro ri ampe deceng
Luserangngi pappojikku lao rialemu

Mammuare matti
Cenning wae eloku
Mupakkemme rennu rimakkarellana atikku
Namuelo sibawa ampe tuoku
Siseo pappoji lettu rileteng sunge'e.

GETAH MANISNYA HASRATKU

Bagaikan mata air yang mengalir tanpa henti
Jejak tapakku berjuang demi harapku di keindahan hatimu
Kendati tertutup kabut pekat
Jua takkan redup cahaya pelita asaku padamu
Senantiasa kokoh selamanya bersuar untukmu

Kendati gunung berempetan ketat
Menampakkan rona api membara
Jua tetap kulewati tanpa ku hiraukan
Asalkan hasratku tersampaikan padamu

Karena hanya dikaulah seorang
Turut hendaknya takah batinku
Dan manisnya getah hasratku
Ingin seikat erat enggan terlepas
Di dalam kejernihan nan suci

Siang dan malam
Acapkali ku melayang riang tanpa batas
Sembari mengintai ulah keputihan
Menimang hasratku nan tertuju padamu

Semoga kelak
Manisnya getah hasrat ini
Engkau endapkan dipalung hatiku nan merona jingga
Dan engkau sudi bersama jalan hidupku
Sesampai di akhir suatu hakikat jiwa.